Rabu, 26 Juni 2013

KETERKAITAN EKONOMI REGIONAL DAN DUNIA BISNIS


Ekonomi regional berbicara mengenai kawasan dalam satu negara, dalam hal ini akan dibicarakan kawasan di Indonesia. Cabang ilmu ekonomi ini mempelajari distribusi aktivitas ekonomi secara spatial. Tidak semua krisis berdampak kepada seluruh negara. Secara umum ekonomi mengalami konstrasksi, terjadi PHK, dan penutupan usaha perbankan. Pada waktu tahun 1998, ekonomi mengalami konstraksi 13%, dan inflasi mencapai 70%. Yang akan dilakukan pngusaha adalah tutup usaha, PHK, dan menyimpan uang. Akan tetapi pada waktu krisis di Indonesia, tetap ada propinsi-propinsi yang tumbuh, seperti yang terjadi di Papua dan Sulawesi yang berada jauh dari Jakarta. Propinsi-propinsi ini terutama produknya tambang dan perkebunan dengan harga dalam dollar. Dengan orientasi ekspor, propinsi ini, malah justru memperoleh pendapatan lebih dengan melemahnya rupiah.
Jadi sebenarnya krisis saat itu hanya terjadi di Jakarta, tetapi digeneralisir ke seluruh Indonesia. Padahal Indonesia tidak homogen. Terdapat kawasan-kawasan lain yang tidak terkena dampak krisis karena pasarnya berpotensi dan harga perdagangan dalam dollar. Kita ambil contoh kawasan Amerika, mulai krisis tahun 2007 dan parah 2008, hanya kawasan tertentu seperti New York, California dan Detroit yang hanya mengalami krisis. Jadi pengetahuan ekonomi regional manjadi penting, bahwa kawasan suatu negara tidak homogen, tetap ada kawasan yang berkembang. Sehingga keadaan ekonomi Amerika cepat pulih. Meskipun belum pernah mencapai keadaan sebelumnya.
Jadi kesimpulannya kawasan ekonomi tidak homogen. Pengetahuan ini sangat penting bagi pelaku bisnis. Terdapat peluang-peluang dalam situasi krisis. Dalam mengelola bisnis perlu disadari bahwa market tentunya juga tidak homogen. Pengetahuan kondisi lingkungan kawasan ini penting bagi para CEO.
Munculnya permasalahan ekonomi yang belum bisa terjawab, karena permasalahan tata ruang menyebabkan munculnya ilmu ekonomi reginal, dimana didalam tata ruang diatasnya terdapat aktivitas manusia dan aktivitas ekonominya. Demikian juga sebaliknya. Aktivitas ekonomi selalu terjadi didalam tata ruang. Untuk melihat antar kawasan kenapa terjadi perbedaan pertumbuhan ekonomi maka pengetahuan ini cukup penting.
Kota-kota kuno, seperti London, Jakarta, Tokyo, Roma, Singapore, New York, secara spesifik akan terletak dipantai atau minimal ada sungai besar yang bisa menjadi tempat lalu lintas perdagangan. Dengan adanya aktivitas ekonomi pertama yang terus berkembang, dimulai dengan berlabuhnya kapal, akan terbuka prospek bisnis lain, seperti jasa kuli, pakaging, dan penginapan yang selanjutnya disebut proses aglomerasi.
Data-data ekonomi regional contohnya adalah PDRB propinsi, yang bisa di menjadi trigger dalam mengembangkan keputusan bisnis. Data kependudukan yang menunjukkan potensi pasar dan luasnya pasar, seperti rata-rata penduduk per kilometer per segi. Data pengangguran yang akan berguna untuk membuka peluang bisnis pelatihan kursus-kursus, PJTKI dan lainnya. Ketidakhomogenan informasi regional akan menentukan strategi lanjutan yang akan dikembangkan dan dieksekusi oleh para CEO. Masih terjadi ketimpangan antara kawasan barat dan timur Indonesia. PDRB tertinggi masih dipegang oleh Jawa, sehingga informasi ini menunjukkan informasi daya beli masyarakat Jawa lebih besar dibandingkan kawasan lainnya.
Dengan data PDRB yang tinggi maka supply barang yang akan ditawarkan dikawasan tersebut adalah dengan kualitas tinggi dan bermerek. Sebaliknya kawasan dengan PDRB rendah pembuat keputusan bisnis harus menawarkan harga yang lebih rendah atau lebih murah.
Ada pula daerah yang kuat dengan struktur pendapatan pertambangan, dengan kawasan seperti ini maka hati-hati, karena sering terjadi seauatu yang semu, bahwa uang hasil pertambangan akan dibawa keluar wilayah tersebut dan keadaan masyarakat setempat dalam kondisi pendapatan yang minim.
Selanjutnya masalah etika bisnis, memperoleh uang dan kekayaan dari orang-orang yang miskin. Kemampuan marketing dalam memanfaatkan data pendapatan masyarakat dan usia penduduk menjadi penting. Bukan berarti bahwa didaerah kawasan miskin tidak ada potensi pasar. Bisnis dapat menawarkan produk dengan pakaging yang lebih kecil sehingga dalam kuantitas lebih sedikit dan harga jual lebih murah. Untuk keperluan sehari-hari barang-barang tersebut akan selalu dikonsumsi. Sehingga eksekusi strategi marketing yang tepat terhadap kondisi ekonomi dan demografi pasar sangat penting.
Informasi kepadatan penduduk mencerminkan banyaknya pasar potensial. Dengan kepadatan yang tinggi di pulai Jawa berarti potensi menjadi pasar besar. Kalau kepadatan rendah maka strategi bisnis di suatu kawasan akan berbeda-beda.
Dengan otonomi daerah maka banyak terjadi pemekaran wilayah. Bertambahnya jumlah propinsi dan Kabupaten /Kota maka regulasi daerah akan berbeda-beda. Tarif retribusi, dan pajak daerah akan menentukan tingkat ketertarikan investor untuk datang, karena hal ini tentu akan berpengaruh dalam pengambilan keputusan bisnis.
Sarana infrastruktur yang baik dan regulasi yang bersahabat terhadap iklim bisnis dalam kawasan regional harus dipelajari para CEO. Penawaran insentif tertentu dalam kawasan akan mengurangi biaya-biaya.
Data kependudukan, mayoritas penduduk Indonesia adalah petani. Pertimbangan data ini menjadi sangat relevan dalam mengembangkan strategi marketing. Preferensi konsumen petani adalah sesuatu yang kelihatan ngetrend dan terkadang norak dalam hal warna dan kemasan. Strategi bisnis harus mempertimbangkan hal ini. Siapa calon pembelinya.
Sekali lagi, pertimbangan lingkungan eksternal yang dalam hal ini adalah kondisi situasi kawasan regional yang seringkali diasumsikan tetap atau cateris paribus dalam kurva penawaran dan permintaan, perlu dijadikan perhatian karena situasi bisnis yang dengan cepat berubah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

I Love Noah